Amarah adalah martabat
nafsu yang paling rendah dan kotor di sisi hukum Allah untuk
makhlukNya, segala yang terbit darinya adalah tindakan kejahatan yang
merupakan dorongan sifat mazmumah (kecelaan), pada tahap ini hati
nurani tidak akan memancarkan sinarnya kerana akan terhijab oleh dosa,
lapisan lampu makrifat redup terselimuti lumpur, bila dibiarkan terus
hingga padam atau mencapai khatama (tertutup dan terkunci hatinya),
tiada cara untuk mencari jalan menyucikannya lagi, kerana itulah
hatinya terus kotor dan diselaputi oleh pelbagai penyakit sampai akhir
hayatnya,
firman Allah:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya”
(QS Al-Baqarah: 10)“Sesungguhnya nafsu amarah itu sentiasa menyuruh
manusia berbuat keji (mungkar)” (QS Al-Baqarah: 169) “Bahkan
manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus” (QS Al-Qiyaamah:
5)
Dalam kesehariannya tiada
pernah peduli pada hukum Allah, kejahatan sudah menjadi kebiasaan,
tiada penyesalan, sering merasa bangga berbuat jahat, misalnya merasa
berbangga, lega dan puas dapat merusak anak gadis orang, bangga dengan
kehidupannya yang tiada teratur, mabuk, berjudi, pergaulan bebas dan
meniru-niru kafirun, bahkan jadi lebih barat dari orang barat. Bagi
insan pada peringkat nafsu ini, konsep hidupnya adalah sekali, hingga
kebutuhan utama hidupnya semata-mata untuk dinikmati sepuas-puasnya
tanpa mengenal batas-batas, baik jahat adalah sama saja di sisinya,
bahkan ia merasa betah dalam keadaan seperti ini sebab ia tiada
mempercayai Alqur’aan, bahkan menganggap Alqur’aan sebagai suatu
kebohongan yang diperuntukan bagi orang-orang yang bodoh dan dungu,
sehingga ia merasa sempurna sebagai makhluk yang terjadi dengan
sendirinya secara alami dan kebetulan hingga segala sesuatu yang ia
peroleh diyakininya atas jerih payahnya sendiri,
Seperti firman Allah:
“Tidaklah engkau perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsunya
(amarah) menjadi tuhannya dan dia disesatkan oleh Allah kerana Allah
mengetahui (kejahatan hatinya dan qadarnya) lalu Allah mengunci mati
pendengarannya (telinga batin) dan hatinya dan ditutup penglihatannya
(mata hatinya).”
(QS Al-Jaatsiyah: 23)
“Maka apakah orang-orang yang
dibukakan Allah hatinya untuk agama islam itu mendapat cahaya dari
Tuhannya? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu
hatinya untuk mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang
nyata.” (QS Az-Zumar: 22)
Ia bergembira bila menerima
nikmat, tetapi berduka cita dan mengeluh bila tertimpa kesusahan,
seperti firman Allah:
“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, nescaya
mereka gembira dengan rahmat itu, dan apabila mereka ditimpa suatu
musibah (yang mereka sangka) akibat kesalahan tangan mereka sendiri,
lantas mereka berputus asa.” (QS Ar-Ruum: 36)
Mereka tiada pernah takut pada
Allah dan hari pembalasan, mereka tidak pernah peduli dengan ancaman
Allah seperti:
“Akan dicampakkan ke dalam neraka jahanam dari golongan jin dan
manusia yang mempunyai hati tiada memperhatikan, mempunyai mata tiada
melihat, mempunyai telinga tiada mendengar, Mereka itu adalah binatang
dan lebih hina dari itu kerana mereka termasuk di dalam golongan yang
lalai” (QS Al-A’Raaf: 179)
Dalam konteks penerimaan ilmu,
orang yang bernafsu amarah hanya digerakan dalam berupaya menerima
ilmu diperingkat ilmu kalam seperti filsafat-filsafat yang ia sangka
sebagai hakikat, dan cenderung mementingkan soal-soal lahiriah dunia
sahaja, tiada minat kepada pelajaran agama dan hari akhirat yang
sebenarnya.
Pada peringkat ini dikhabarkan
tiada peluang sama sekali untuk menerima ghaib dan ilmu hakikat selagi
hatinya kotor dan hatinya tiada di gerakan pada berkehendak untuk
disucikan dengan pembersihan zikrillah yang mempunyai wasilah dengan
Rasulullah SAW.
Untuk membebaskan diri dari
cengkaman nafsu ini (secara thobi’at yang dikhabarkan Allah melalui
RasulNya) disandarkan pada jalan wasilah ilmu Allah melalui Rasulullah
SAW dengan menerima pengajaran dari ahli zikir yaitu guru mursyid
(’Sin’ yang mengandung ‘Mim’) yang dapat memberikan
petuah-petuah penyucian diri dan penyucian jiwa yang mempunyai mata
rantai ilmu waris dengan Rasulullah SAW.
Sabda Rasulullah SAW:
“Tiap sesuatu ada alat penyucinya dan yang menyuci hati ialah zikir
kepada Allah “
“Sesungguhnya syaithon itu
telah menaruh belalainya pada hati manusia, maka apabila manusia itu
berzikir kepada Allah, maka mundurlah syaithon, dan apabila ia lupa
maka syaithon itu menelan hatinya”